Konservasi Satwa Belangkas : Tantangan Konservasi dan Sibol Penolak Bala dalam Perspektif Hukum Adat Masyarakat Gorontalo Utara
DOI:
https://doi.org/10.57250/ajsh.v5i2.1183Kata Kunci:
Belangkas, Konservasi, Satwa, Sumber Daya AlamAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang tantangan konservasi dari satwa belangkas yang dijadikan simbol penolak bala di Gorontalo Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Satwa belangkas (Hele Moonu) memiliki peran penting dalam struktur simbolik budaya masyarakat pesisir di Gorontalo. Di wilayah pesisir Kabupaten Gorontalo Utara, ditemukan bahwa belangkas diyakini sebagai makhluk sakral yang mampu menangkal bala, penyakit, serta gangguan makhluk halus. Di sisi lain, meskipun masyarakat menganggap belangkas sebagai penolak bala, praktik pelestariannya sering kali tidak sejalan dengan prinsip konservasi. Beberapa warga justru menangkap belangkas untuk dijadikan pajangan atau dijual. Fenomena ini terjadi karena tidak adanya pemahaman ekologis bahwa spesies ini berkembangbiak secara lambat dan sangat tergantung pada kondisi habitat yang stabil. Secara keseluruhan, konservasi belangkas di Gorontalo Utara menghadapi tantangan multidimensi: hukum, sosial, budaya, dan ekologi. Nilai tradisional sebagai penolak bala tidak cukup untuk menjamin kelestarian spesies ini jika tidak didukung oleh kesadaran ekologis, kebijakan yang berpihak, serta kolaborasi antar pihak. Upaya pelestarian belangkas harus dirancang secara menyeluruh agar mampu melindungi tidak hanya spesiesnya, tetapi juga warisan budaya yang menyertainya.
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Muthiara Afdillah Kadir

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













