Modernisasi Singapura dan Warisan Politik Lee Kuan Yew (1965–1990): Kajian Sejarah Politik
DOI:
https://doi.org/10.57250/ajsh.v6i1.2723Kata Kunci:
Modernisasi, Singapura, Lee Kuan Yew, Developmental State, Developmental Authoritarianism, Sejarah PolitikAbstrak
Artikel ini mengkaji proses modernisasi Singapura dan warisan politik Lee Kuan Yew pada periode 1965–1990 dalam perspektif sejarah politik. Setelah berpisah dari Malaysia pada tahun 1965, Singapura menghadapi berbagai tantangan berupa keterbatasan sumber daya alam, tingginya tingkat pengangguran, serta ketidakpastian ekonomi dan politik. Di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew, pemerintah menerapkan strategi pembangunan yang berorientasi pada industrialisasi, investasi asing, pembangunan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, serta birokrasi yang efisien dan meritokratis. Kebijakan tersebut berhasil mendorong transformasi Singapura menjadi salah satu pusat perdagangan, industri, dan keuangan terkemuka di Asia. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan modernisasi Singapura tidak hanya ditopang oleh kebijakan ekonomi yang efektif, tetapi juga oleh kuatnya peran negara dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan nasional. Dalam konteks tersebut, pemerintah menerapkan berbagai instrumen politik dan keamanan, termasuk Internal Security Act (ISA), untuk mengendalikan potensi ancaman terhadap stabilitas negara dan pembangunan ekonomi. Kajian ini juga menunjukkan bahwa modernisasi Singapura berlangsung bersamaan dengan penguatan kontrol politik negara terhadap masyarakat. Pemerintahan Lee Kuan Yew membangun legitimasi politik melalui keberhasilan ekonomi, sementara ruang oposisi politik dan kebebasan sipil tetap berada dalam pengawasan negara yang ketat. Oleh karena itu, warisan politik Lee Kuan Yew dapat dipahami sebagai bentuk developmental authoritarianism, yaitu model pembangunan yang menggabungkan pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, dan dominasi negara dalam kehidupan publik. Warisan tersebut masih memengaruhi sistem politik Singapura pasca-1990, terutama dalam kuatnya peran negara, penekanan pada keamanan nasional, serta penggunaan keberhasilan ekonomi sebagai sumber legitimasi politik.
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Gita Artika Ningtyas

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













