Analisis Perbandingan Ketahanan Luntur Warna Terhadap Sinar UV (Lightfastness) Hasil Sablon Konvensional Menggunakan Tinta Rubber, Plastisol, dan Organik Pada Kain Cotton Combed
DOI:
https://doi.org/10.57250/ajst.v4i2.2901Kata Kunci:
lightfastness, sablon konvensional, tinta rubber, tinta plastisol, tinta organik indigovera, ΔE CIELABAbstrak
Pemudaran warna akibat paparan sinar matahari merupakan salah satu kendala mutu yang umum dijumpai pada produk sablon tekstil, terutama untuk barang yang penggunaannya banyak bersinggungan dengan cahaya luar ruangan. Studi ini mengevaluasi ketahanan warna (lightfastness) tiga formulasi tinta sablon konvensional, yaitu rubber, plastisol, dan tinta organik berbahan indigovera (Indigofera tinctoria), yang dicetak pada kain cotton combed dengan tiga variasi gramasi (20s, 24s, 30s). Pengujian dilakukan dengan menempatkan sampel pada lightfastness chamber bersumber lampu xenon arc, berjarak 10-15 cm dari sampel, suhu ruang uji dijaga pada rentang 30-40°C, dengan durasi penyinaran selama 24 jam mengikuti acuan ISO 105-B02:2014. Perubahan warna diukur melalui selisih koordinat CIELAB (L*, a*, b*) sebelum dan sesudah penyinaran menggunakan spectrodensitometer Techkon, lalu dikuantifikasi sebagai nilai ΔE. Analisis ANOVA dua arah menunjukkan bahwa jenis tinta berpengaruh sangat signifikan terhadap nilai ΔE (F = 118,66; Sig. = 0,000), sementara variasi gramasi kain secara mandiri tidak signifikan (Sig. = 0,140). Hasil uji lanjut Tukey HSD mengungkap bahwa tinta organik indigovera memiliki ketahanan warna terbaik terhadap sinar UV (rata-rata ΔE = 3,30), jauh melampaui tinta rubber (ΔE = 10,14) dan plastisol (ΔE = 10,94), yang keduanya tidak berbeda signifikan satu sama lain (Sig. = 0,513). Temuan ini bertolak belakang dengan asumsi umum bahwa tinta sintetis lebih unggul secara menyeluruh, dan menegaskan potensi tinta berbasis indigovera sebagai alternatif yang lebih tahan terhadap fotodegradasi pada aplikasi produk yang sering terpapar sinar matahari.





