Diferensiasi Halusinasi Klinis dan Pengalaman Spiritual dalam Hadis Nabi saw.: Analisis Tematik Pengalaman Sensorik Non-Ordiner dengan Pendekatan Psikopatologi Modern
DOI:
https://doi.org/10.57250/ajsh.v6i2.3399Kata Kunci:
Ilmu Hadis, Psikopatologi Modern, Pengalaman Spiritual, Halusinasi Klinis, Cultural Psychiatry, Pengalaman Sensorik Non-OrdinerAbstrak
Penelitian mengenai pengalaman sensorik non-ordiner dalam agama sering bergerak di antara dua kutub yang sama-sama problematik, yaitu reduksionisme psikiatris yang cenderung menyamakan seluruh pengalaman religius dengan gejala patologis, dan pendekatan normatif yang menolak perangkat analisis klinis secara menyeluruh. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana hadis-hadis tentang pengalaman sensorik non-ordiner Nabi Muhammad saw. dapat dibaca melalui pendekatan psikopatologi modern untuk membedakan pengalaman spiritual dari halusinasi klinis. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis tematik terhadap hadis-hadis sahih yang memuat mimpi benar, pendengaran wahyu seperti bunyi lonceng, perjumpaan dengan Jibril dalam bentuk manusia maupun bentuk asal, dan pengalaman Isrā’ Mi‘rāj. Data primer diambil dari kumpulan hadis kanonik, sedangkan data sekunder berasal dari literatur mutakhir tentang psikopatologi, cultural psychiatry, dan spiritualitas-kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi hadis menampilkan sejumlah indikator yang secara fenomenologis membedakannya dari halusinasi klinis, yaitu konteks pengalaman yang terstruktur, keterjagaan fungsi sosial-kognitif, konsistensi isi, adanya validasi intersubjektif, tidak ditemukannya disorganisasi pikir, serta keluaran etis-transformatif yang stabil. Sebaliknya, halusinasi klinis dalam literatur psikiatri lebih sering muncul bersama distress, penurunan fungsi, kehilangan kontrol, dan gangguan organisasi realitas. Dengan demikian, representasi hadis tentang pengalaman sensorik Nabi lebih tepat dipahami, dalam batas analisis fenomenologis, sebagai pengalaman spiritual yang terlegitimasi secara kultural-religius daripada sebagai halusinasi patologis. Studi ini berkontribusi pada penguatan dialog antara Ilmu Hadis dan psikopatologi kontemporer melalui model pembacaan non-reduksionis, kritis, dan metodologis.
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Bustanul Ulum, Nagib Romadhony

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













